
Mau bilang Cina, Chinese, Tionghoa, Huaren, bahkan di-krama-inggil-kan sebagai “Cinten”, kekikukan itu kadang terasa, pakai “maaf” pula, bahkan ketika dalam obrolan tak ada yang keturunan Cina.
Penambahan kata “keturunan” sering tak diberlakukan untuk orang Jawa, Sunda, Bugis, Batak, Minang…
Kata “keturunan” diberlakukan untuk orang India, Jerman, Belanda… Mungkin untuk membedakan dengan status kewarganegaraan non-Indonesia. Tapi tidak ada “keturunan Israel”; yang ada “keturunan Yahudi”. ”Keturunan Arab”? Banyak negeri Arab.
Maka dalam konteks tertentu, satu kata “keturunan“ saja berarti orang Cina Indonesia.
Selama ada kekikukan, berarti ada masalah. Dalam bahasa lisan itu tecermin. Sampai kapan?
Sampai kita sepenuhnya menerima keragaman.
Di luar 100 Kata | Ilustrasi: Terima kasih untuk Meisia Lucia Chandra yang menyumbangkan kata “huaren” (artinya orang beretnis Cina) dalam karakter Mandarin.








